Sejarah Penemuan Berlian

Berlian dikenal sebagai salah satu batu mulia yang memiliki nilai sangat tinggi dan terkenal karna kecemerlangannya. Namun siapa sangka dibalik kilaunya, berlian memiliki sejarah panjang hingga dikenal dan kerap dijadikan perhiasan dengan harga yang mahal.

 

Kepopuleran berlian dimulai dari abad ke-4 sebelum masehi dimana berlian pertama kali ditemukan di dalam endapan tanah aluvial di sepanjang sungai Krishna, Penner dan Godavari di negara India. Karna kuantitasnya yang terbatas, pada saat itu berlian hanya digunakan oleh kaum bangsawan di India saja. Seiring dengan meluasnya perdagangan dari India ke Eropa, maka berlian dari India mulai dipasarkan lewat para pedagang dari Venesia, Italia. Sejak saat itulah, persebaran batu berlian mulai merambah ke benua lain dan menjadi aksesoris modis para bangasawan Eropa.

 

Ketika pasokan berlian dari India mulai menurun pada tahun 1700-an, Brazil mulai muncul sebagai negara baru penghasil berlian seiring dengan demam pertambangan emas yang melanda negara tersebut. Batu berlian di Brazil banyak ditemukan oleh di lokasi-lokasi penambangan emas secara tidak sengaja dan Brazil sempat mendominasi pasar batu berlian dunia hingga lebih dari 150 tahun setelahnya.

Pada perkembangannya, pasar berlian di era modern bermula dari penemuan batu berlian di daerah Kimberley Afrika pada tahun 1866 dan berlanjut dengan didirikannya perusahaan tambang berlian De Beers oleh pengusaha Cecil Rhodes 22 tahun kemudian. Pendirian De Beers menjadi salah satu tonggak penting sejarah batu berlian karna pada tahun 1900, De Beers mendominasi sekitar 90% produksi berlian mentah di seluruh dunia.

 

Penemuan tambang-tambang berlian baru juga menjadikan industri ini semakin berkembang pesat. Di akhir 1970-an Afrika Selatan tercatat sebagai produsen berlian mentah terbesar, khususnya di Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo) dan bekas negara Uni Soviet. Selain itu, ditemukan juga tambang berlian baru di Bostwana pada tahun 1982, tahun 1985 di Australia, dan tahun 2000 di Kanada. Kuantitas produksi berlian juga meningkat sedemikian besar dari hanya 1 juta karat di tahun 1870 hingga mencapai lebih dari 100 juta karat di tahun 1900-an.

 

Adanya sumber daya batu berlian yang ditemukan di Afrika Selatan dan beberapa negara lain banyak mempengaruhi industri berlian di seluruh dunia. Berlian yang awalnya ditambang di permukaan tanah mulai bergeser dengan menggali tanah hingga ke perut bumi. Biaya dan tenaga yang dikeluarkan pun menjadi semakin besar sehingga dikembangkanlah metode-metode penambangan baru yang lebih efektif dan efisien. Tehnik pemotongan dan pemolesan berlian mentah juga dikembangkan sedemikian rupa dengan menggunakan mesin potong berteknologi tinggi sehingga menghasilkan berlian yang indah dengan cutting beragam namun dengan biaya yang lebih rendah dan waktu pengerjaan yang jauh lebih efisien. Ragam tehnik pemotongan inilah yang menjadikan sebuah berlian memiliki kilau yang sempurna untuk dijadikan perhiasan seperti cincin, kalung, anting ataupun gelang. Karna kekuatan dan kecemerlangannya, hingga saat ini berlian kerap diasosiasikan sebagai simbol keabadian yang tak lekang oleh zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *